Site icon Phadil Fikri

Pembakaran Gedung DPRD dan Peran Mahasiswa Bijak

Gelombang demonstrasi di beberapa daerah Indonesia kembali memanas. Aksi massa yang awalnya menuntut keadilan sosial, berubah menjadi kerusuhan hingga berujung pada pembakaran gedung DPRD di Makassar, NTB, dan Bandung. Peristiwa ini tidak hanya merusak fasilitas publik, tetapi juga menelan korban jiwa.

Di Makassar, kantor DPRD Sulawesi Selatan terbakar hebat saat rapat masih berlangsung. Tiga orang masyarakat tewas akibat terjebak asap, sementara lima lainnya mengalami luka-luka. Kejadian tragis ini meninggalkan luka sosial yang mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat sekitar.

Kerusuhan tersebut mencerminkan krisis kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif. Rakyat merasa tidak didengar, sementara pemerintah dianggap tidak transparan. Namun, aksi anarkis yang menelan korban jiwa justru memperburuk keadaan dan menutup ruang dialog yang sehat.

Dalam kondisi ini, mahasiswa seharusnya hadir sebagai agen perubahan. Sejarah mencatat, mahasiswa punya peran penti kekerasan yang merugi sendiri.

Islam pun mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang penuh hikmah. QS. An-Nahl ayat 125 menegaskan agar seruan kebaikan disampaikan dengan ilmu dan akhlak mulia. Mahasiswa perlu menjadi teladan, tidak mudah  melakukan tabayyun sebelum bertindak.

Oleh karena itu, demonstrasi h dijadikan sarana menyuarakan kebenaran, bukan ajang kerusuhan. Jika mahasiswa mampu mengawal aspirasi rakyat dengan bijak, maka energi protes bisa diarahkan untuk membangun demokrasi yang adil dan bermartabat.

Exit mobile version